Gemanusantara.net, AMBON — Lahan kosong di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon tidak dibiarkan terbengkalai.
Melalui program pembinaan kemandirian, warga binaan mengubah area brandgang menjadi lahan pertanian produktif hingga menghasilkan 50 kilogram jagung yang dipanen, Rabu (23/9/2026).
Panen tersebut menjadi salah satu bukti nyata pelaksanaan pembinaan kemandirian di Lapas Ambon. Warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan melalui kegiatan pertanian yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Program tersebut sekaligus mendukung Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendorong kemandirian pangan melalui pemanfaatan lahan tidur atau idle menjadi lahan produktif.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Ambon, Zulkipli Salampessy, mengatakan keberhasilan panen jagung merupakan hasil ketekunan warga binaan yang secara konsisten merawat tanaman sejak proses pengolahan lahan hingga masa panen.
“Kami sangat bersyukur kerja keras warga binaan dalam merawat tanaman jagung ini membuahkan hasil memuaskan sebanyak 50 kilogram. Ini membuktikan bahwa pembinaan kemandirian di bidang pertanian berjalan efektif dan produktif,” ujar Zulkipli.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan ruang kepada warga binaan untuk menghasilkan sesuatu melalui keterampilan yang mereka pelajari selama menjalani pembinaan di dalam lapas.
Hasil Panen Masuk ke Perputaran Produktif
Lapas Ambon tidak membiarkan hasil panen berhenti sebagai kegiatan seremonial. Sebagian jagung segar dipasarkan kepada pegawai lapas, sedangkan sebagian lainnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan di dapur lapas bagi warga binaan.
Hasil penjualan komoditas pertanian tersebut selanjutnya disetorkan sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sebagian hasil juga disisihkan sebagai premi bagi warga binaan yang terlibat langsung dalam kegiatan pertanian.
Skema tersebut membuat hasil kerja warga binaan memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan penghargaan atas keterlibatan mereka dalam proses produksi.
Salah satu pegawai Lapas Ambon, Roland Orno, mengapresiasi kualitas jagung hasil panen warga binaan. Ia menilai keterlibatan pegawai membeli hasil pertanian tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap produktivitas warga binaan.
“Kualitas jagung hasil panen warga binaan ini sangat baik dan segar. Kami antusias ikut membeli karena selain mendukung program kemandirian, ini juga menjadi motivasi tersendiri bagi warga binaan untuk terus berkarya,” tutur Roland.
Bekal Keterampilan untuk Kembali ke Masyarakat
Bagi warga binaan, kegiatan bercocok tanam tidak sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Program tersebut memberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan baru yang dapat dimanfaatkan setelah mereka bebas.
Salah satu warga binaan yang terlibat dalam pengelolaan lahan, OT, mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti pembinaan pertanian.
“Kami sangat berterima kasih atas bimbingan para petugas. Melalui kegiatan menanam jagung ini, kami jadi memiliki keahlian baru di bidang pertanian yang sangat bermanfaat, sekaligus merasa dihargai lewat pemberian premi dari hasil kerja keras kami,” ungkap OT.
Kepala Lapas Ambon, S. Hendra Budiman, menegaskan pihaknya akan terus mengoptimalkan lahan yang tersedia agar memberikan manfaat bagi program pembinaan.
“Panen jagung seberat 50 kilogram ini adalah bukti bahwa Lapas Ambon terus bergerak progresif mendukung Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Kami ingin warga binaan memiliki bekal keterampilan yang produktif, sehingga kelak saat kembali ke masyarakat, mereka dapat menjadi insan yang mandiri dan berguna,” tegas Hendra.
Keberhasilan panen tersebut menjadi pijakan bagi Lapas Ambon untuk memperluas pembinaan berbasis ketahanan pangan. Pemanfaatan lahan kosong, hasil produksi, PNBP, hingga pemberian premi kepada warga binaan menunjukkan bahwa program pembinaan dapat berjalan dalam satu rangkaian yang produktif.
Dari lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan, kini tumbuh hasil pertanian sekaligus keterampilan. Bagi warga binaan, 50 kilogram jagung itu bukan sekadar hasil panen, tetapi bagian dari bekal untuk membangun kembali kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat. (ULN)







