Oleh Wan Tamalene pemuda Saka Mese Nusa
Ambon,gemanusantara.co.id-Demokrasi dalam pandangan manusia senantiasa berpusat pada cara pandang seseorang mengungkapkan ilustrasi-ilustrasi tentang Gelombang demokrasi yang semakin kuat di lingkungan masyarakat. Berbagai dinamika sosial terjadi mengikuti basis-basis intelektual yang dapat dimiliki baik individu, kelompok, maupun masyarakat luas.
Kehendak demokrasi harus dapat didasarkan pada kepentingan bersama bahwa nilai solidaritas dan kerja sama adalah bentuk kekuatan menjaga keutuhan dan kedaulatan bagi kesejahteraan rakyat yang seutuhnya.
Ini berarti apa yang kemudian di ungkap oleh Prof. Dr. Thomas Meyer, sosiolog asal Jerman. Meyer hadir dalam diskusi publik berjudul “Politics of Cultural Differences & The Challenge for Civillity”, acara yang merupakan kerja sama UI dengan Friedrich Ebert Stiftung.
Meyer menekankan bahwa untuk mencapai suksesnya demokrasi, “berbagi budaya sipil” harus dilakukan. Dengan adanya keterlibatan sipil yang aktif dan partisipatif maka ini akan menjadi faktor yang amat positif dalam perkembangan demokrasi.
Sebagaimana kita mengetahui bahwa identitas sosial di negara multikultur dan demokrasi seperti Indonesia adalah hal yang cukup rumit. Kerumitan yang dihadapi saat ini diikuti dengan Berbagai latar belakang, kepentingan dan cara pandang masuk dalam satu tataran politik.
Jika ini tidak dikelola dengan baik maka bisa memicu tumbuhnya fundamentalisme yang tidak berpihak pada etika sosial maupun nilai-nilai persatuan dan kesatuan itu akan dapat melemahkan karateristik demokrasi kita yang tidak lagi menghargai pandangan orang lain, bahkan hal yang terjadi yaitu pembicaraan kita sering dan selalu melukai pikiran seseorang pada hal-hal buruknya saja tanpa memandang perlu bagaimana pengabdian dilakukan seseorang untuk masyarakat luas
Kondisi yang demikian harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat kepulauan untuk mengekspresikan identitas sosialnya.
Apalagi Tensi dan kontradiksi akan dapat diminimalisir dengan adanya ruang publik seperti diskusi untuk menyampaikan gagasan bagamana menyelamatkan demokrasi yang berasakan Pancasila dan UUD 1945.
Akhir-akhir ini dalam kenyataannya, bahwa peran aktif masyarakat kepualauan dalam dinamika sosial semakin mencuat dipermukaan menghadapi pemilu 2024 mendatang.
Berbagai sumber informasi yang dihimpun dari media sosial, dan di lingkungan masyarakat luas bahwa situasi dan kondisi yang berlangsung sangat jelas ekspresi tersebut menunjukkan suatu komitmen bersama dalam mengawal demokrasi ini kedepan lebih baik serta jauh dari istilah Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN).
Ini merupakan faktor yang sangat dihawatirkan masyarakat bahwa apabila budaya kkn ini terus berlanjut maka sangat mempengaruh nilai-nilai Sumber Daya Manusia (SDM) kita dimasa yang akang datang.
Sebab pisau analisis masyarakat hari ini mulai melebar dimana-mana. Biasanya apabila informasi mulai berkembang maka istila kekinian ingin tahu misalnya, hal yang dilakukan masyarakat tidak banyak tetapi berusaha untuk menghimpun informasi, kemudian dijadikan bahan diskusi hingga pada akhirnya dapat diperkuat menjadi suatu leporan tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan kepada pihak penegak hukum untuk dapat diproses sebagaimana mestinya, atau serupa dengan Hukum harus tajam ke atas bukan sebaliknya suatu azas hukum melemah di telapak kaki manapun.(**)




