SMP Negeri 19 Ambon Tutup MPLS Ramah 2026, Perkuat Karakter dan Deklarasikan Sekolah Anti-Bullying

Gemanusantara.net,AMBON – SMP Negeri 19 Ambon resmi menutup pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun 2026 dengan menegaskan komitmen membangun karakter peserta didik melalui pendidikan yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Penutupan berlangsung pada Jumat (17/7/2026), ditandai dengan penampilan kreatif siswa, presentasi hasil pembelajaran, serta deklarasi sekolah anti-bullying.

Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, menjelaskan bahwa pelaksanaan MPLS Ramah 2026 merupakan kelanjutan dari kebijakan tahun sebelumnya yang mengedepankan pembentukan karakter peserta didik sesuai arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.

“MPLS Ramah dikemas dalam kegiatan yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan, sehingga setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi siswa yang berkarakter, berprestasi, serta mampu membangun relasi sosial yang sehat,” ujarnya.

Menurutnya, selama lima hari pelaksanaan MPLS, seluruh peserta didik dibimbing melalui Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang diisi setiap hari sebagai instrumen refleksi sekaligus evaluasi proses pembelajaran.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Pagi Ceria, meliputi senam pagi, doa bersama, kemudian dilanjutkan penyampaian berbagai materi yang disajikan secara interaktif agar peserta didik tetap aktif dan antusias mengikuti seluruh proses pembelajaran.

“Materi tidak disampaikan secara monoton, tetapi dikemas secara kreatif sehingga siswa merasa senang sekaligus memperoleh pemahaman yang utuh terhadap setiap nilai yang diajarkan,” jelasnya.

Pada hari terakhir, setiap kelompok menampilkan presentasi mengenai materi yang telah dipelajari sejak hari pertama. Salah satu tema utama yang dipresentasikan adalah Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penerapan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun), hingga etika bermedia sosial.

Novy mengungkapkan, materi etika digital sengaja disampaikan dalam format talk show agar lebih komunikatif dan mudah dipahami peserta didik.

“Anak-anak saat ini sangat dekat dengan media sosial. Karena itu mereka perlu memahami etika dalam menggunakan Facebook, Instagram maupun WhatsApp, termasuk bagaimana menghargai orang lain ketika memberikan komentar atau membagikan informasi di ruang digital,” terangnya.

Selain itu, peserta juga memperoleh pembelajaran mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, sebagai implementasi kebijakan terbaru yang menggantikan mekanisme Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (TPPK) menjadi sistem Kelompok Kerja (Pokja) dalam penanganan berbagai bentuk kekerasan di satuan pendidikan.

Dalam pelaksanaan MPLS tahun ini, SMP Negeri 19 Ambon turut menggandeng sejumlah mitra, di antaranya Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) serta Rumah Generasi, lembaga swadaya masyarakat yang menjadi mitra sekolah dalam penguatan pendidikan inklusif.

Novy menjelaskan, SMP Negeri 19 Ambon merupakan salah satu sekolah percontohan (piloting) pendidikan inklusif yang mendapat pendampingan secara berkelanjutan melalui kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Rumah Generasi.

Sebanyak 285 peserta didik baru mengikuti MPLS Ramah Tahun 2026 yang terbagi dalam 10 kelompok belajar, dengan jumlah peserta sekitar 28 hingga 29 siswa di setiap kelompok.

Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan sejak hari pertama hingga penutupan berlangsung tertib, aman, dan tanpa kendala berarti.

“Puji Tuhan, seluruh kegiatan berjalan lancar. Antusiasme siswa sangat baik dan seluruh agenda dapat dilaksanakan sesuai petunjuk pelaksanaan MPLS Ramah 2026,” ungkapnya.

Sebagai penegasan komitmen mewujudkan lingkungan belajar yang aman, seluruh warga sekolah juga melaksanakan Deklarasi Sekolah Anti-Bullying yang ditandatangani kepala sekolah, dewan guru, tenaga kependidikan, perwakilan orang tua, serta seluruh peserta didik.

Menurut Novy, deklarasi tersebut menjadi komitmen kolektif untuk membangun budaya sekolah yang menghargai martabat setiap individu, menolak segala bentuk perundungan, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh peserta didik.

“Kami berharap nilai-nilai yang diperoleh selama MPLS tidak berhenti pada kegiatan pengenalan sekolah semata, tetapi menjadi fondasi pembentukan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat,” pungkasnya. (ULN)