Melbourne, GemaNusantara.net – Ambon Sailing Community (ASC) membawa semangat dan identitas budaya Maluku ke panggung internasional melalui Festival Indonesia 2026 yang berlangsung di Melbourne, Australia, pada 22–24 Oktober 2026.
Tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, partisipasi ASC juga memperkenalkan kekayaan musik tradisional, fashion etnik, serta produk kreatif Maluku kepada masyarakat mancanegara.
Dalam kegiatan tersebut, ASC berkolaborasi dengan Azael Collection dan Mese Mena. Sinergi ketiga unsur ini menghadirkan representasi budaya Maluku melalui beragam ekspresi kreatif, sekaligus memperlihatkan potensi seni dan produk lokal sebagai bagian dari kekuatan promosi daerah.
Ketua Ambon Sailing Community, Nico Tulalessy, menilai Festival Indonesia merupakan ruang strategis untuk memperluas pengenalan budaya Indonesia, khususnya Maluku, di tingkat internasional. Ajang tersebut juga membuka peluang membangun jejaring kerja sama dan pertukaran budaya antara Maluku dan negara lain.
Festival Indonesia 2026 menghadirkan beragam kekayaan budaya Nusantara melalui pertunjukan tari, musik tradisional, kuliner, serta atraksi seni dari sejumlah daerah. Keberagaman ini menjadi medium diplomasi budaya yang mempertemukan masyarakat lintas negara melalui seni, tradisi, dan kreativitas.
Salah satu daya tarik dalam kolaborasi tersebut ialah kehadiran Azael Collection dan Oleh-Oleh Maluku yang memperkenalkan identitas budaya Maluku melalui produk fashion etnik. Kedua merek tersebut dimiliki Prof. Dr. Fransina Latumahina, S.Hut., M.P., IPU, ASEAN Eng., dosen Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura (Unpatti).
Melalui kedua merek tersebut, Fransina memperkenalkan produk fashion etnik yang mengangkat nilai estetika, kekhasan motif, serta kreativitas berbasis warisan budaya Maluku.
Koleksi yang diperkenalkan mencakup busana berbahan kain tenun Tanimbar, kebaya dansa, kemeja etnik, outer, rompi, syal, hingga berbagai aksesori dan produk turunan tenun lainnya.
Ragam produk tersebut tidak hanya merepresentasikan kekayaan tekstil dan identitas budaya Maluku, tetapi juga memiliki potensi ekonomi sebagai bagian dari pengembangan industri kreatif daerah.
Kehadirannya di Melbourne membuka ruang promosi bagi produk lokal dan UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi Nico, pertukaran budaya memiliki nilai strategis karena mampu memperluas ruang perjumpaan antarmasyarakat, memperkenalkan kekhasan daerah, sekaligus membangun pemahaman lintas budaya.
Melalui musik jukulele dan berbagai ekspresi seni lainnya, Maluku memiliki peluang untuk memperkuat eksistensi budaya lokal dalam pergaulan internasional.
Selain itu, Grup Jukulele Maluku Basudara terus menampilkan pesona musik jukulele dalam berbagai event besar di Kota Melbourne, Australia.
Kiprah tersebut menjadi bentuk nyata pelestarian musik tradisional Maluku di Negeri Kanguru sekaligus memperkenalkan kekayaan seni daerah kepada masyarakat internasional.
Penampilan musik jukulele, Grup Jukulele Maluku Basudara turut menjaga keberlanjutan warisan budaya Maluku agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal lintas generasi.
Kehadiran grup ini juga memperkuat peran komunitas diaspora dalam memperkenalkan identitas budaya Maluku di luar negeri.
Apresiasi dan ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Ketua Maluku Basudara, Ibu Ina Siwabessy, yang telah memfasilitasi akomodasi bagi tim Maluku selama mengikuti Festival Indonesia 2026 di Melbourne, Australia.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menunjang keikutsertaan tim sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan kolaborasi masyarakat Maluku di perantauan.
Nico juga menyampaikan apresiasi kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne, khususnya Konsul Jenderal Yohanes Jatmiko H. Prasetyo dan Ibu Silvany, serta seluruh panitia Festival Indonesia 2026 yang telah memberikan dukungan dan kesempatan kepada kelompok Jukulele Maluku untuk tampil di Melbourne.
“Festival Indonesia merupakan ajang untuk mempromosikan Indonesia dan kekayaan budayanya, terutama budaya Maluku.
Kami berterima kasih kepada KJRI Melbourne, Bapak Yohanes Jatmiko H. Prasetyo, Ibu Silvany, serta seluruh panitia yang telah mendukung dan memberikan kesempatan kepada kami untuk menampilkan musik jukulele Maluku di Kota Melbourne,” ungkap Nico.
Ia berharap, partisipasi dalam Festival Indonesia 2026 dapat berkembang menjadi kerja sama kebudayaan yang berkelanjutan antara Provinsi Maluku dan Negara Bagian Victoria, Australia.
Menurutnya, hubungan tersebut perlu diarahkan pada pertukaran seni, pengembangan kreativitas, serta perluasan kesempatan bagi komunitas budaya Maluku untuk tampil di tingkat internasional.
“Kami berharap ke depan terjalin hubungan kerja sama dan pertukaran budaya antara Negara Bagian Victoria dan Provinsi Maluku. Kami juga berharap Kementerian Kebudayaan dapat memberikan dukungan terhadap upaya ini,” harapnya.
Partisipasi ASC bersama Azael Collection dan Mese Mena menegaskan bahwa kebudayaan Maluku memiliki banyak wajah dan potensi untuk diperkenalkan ke dunia. Musik jukulele, kekayaan tenun, fashion etnik, dan kreativitas komunitas dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi dalam membangun citra Maluku sekaligus memperluas peluang ekonomi kreatif daerah.
Melalui panggung Festival Indonesia 2026, ASC turut membuka ruang bagi budaya Maluku untuk dikenal lebih luas, bukan hanya sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai identitas yang terus hidup, berkembang, dan memiliki daya saing di tingkat internasional. (ULN)












