AMBON, GemaNusantara.net— Lahan kosong di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon mulai memberikan hasil. Warga binaan bersama peserta magang nasional berhasil memanen 35 ikat kangkung pada Selasa (27/10/2026). Hasil panen tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran di dapur lapas.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang mengajak warga binaan mengolah lahan menjadi sumber pangan. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, aktivitas pertanian tersebut memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempelajari keterampilan yang dapat dikembangkan setelah kembali ke masyarakat.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Ambon, Zulkipli Salampessy, mengatakan pihaknya terus mendorong pemanfaatan lahan yang tersedia agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Menurutnya, kegiatan bercocok tanam memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengisi waktu dengan aktivitas produktif sekaligus mempelajari proses pertanian, mulai dari penanaman hingga panen.
“Kami ingin memastikan bahwa waktu yang dihabiskan warga binaan di lapas diisi dengan kegiatan yang positif dan bernilai ekonomis. Dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada, mereka dilatih untuk terampil bertani, sekaligus hasilnya bisa langsung dirasakan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dapur lapas secara mandiri,” ujar Zulkipli.
Ia menambahkan, Lapas Ambon berencana memperluas kegiatan bercocok tanam dengan menanam berbagai jenis sayuran lainnya. Langkah ini bertujuan memaksimalkan pemanfaatan lahan sekaligus memperluas kegiatan pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Salah seorang warga binaan berinisial MK mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasakan manfaat bercocok tanam karena memberikan kesibukan positif selama menjalani masa pidana.
MK menceritakan bahwa kegiatan itu bermula dari upaya membersihkan dan menata lahan kosong sebelum mereka mulai menanam kangkung bersama-sama.
“Awalnya kami hanya mencoba merapikan lahan kosong ini, lalu mulai menanam bibit kangkung bersama-sama. Rasanya sangat senang dan bangga saat melihat hasilnya bisa dipanen hari ini. Kegiatan ini membuat kami merasa lebih produktif dan punya keahlian baru yang insya Allah bermanfaat setelah bebas nanti,” tutur MK.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan yang mendorong warga binaan mengembangkan kemampuan praktis. Keterampilan bertani diharapkan dapat menjadi bekal untuk menjalankan kegiatan produktif ketika mereka kembali menjalani kehidupan di luar lapas.
Program pertanian ini juga melibatkan peserta magang nasional yang mendampingi warga binaan dalam mengolah lahan hingga memanen kangkung.
Peserta magang nasional, Febrian L. Rijoly, mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman itu memberikan pemahaman mengenai pelaksanaan pembinaan kemandirian melalui kegiatan yang menghasilkan manfaat nyata.
“Terlibat langsung dalam pendampingan pertanian bersama warga binaan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi kami. Melihat antusiasme mereka merawat tanaman hingga bisa memanen 35 ikat kangkung hari ini menunjukkan bahwa proses pembinaan kemandirian di Lapas Ambon berjalan dengan sangat baik dan berdampak nyata,” ungkap Febrian.
Keterlibatan peserta magang turut mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan sekaligus memberikan pengalaman langsung mengenai proses pembinaan di lingkungan pemasyarakatan
Pelaksana Harian Kepala Lapas Ambon, Rizal Mesfer, mengapresiasi keberhasilan warga binaan menghasilkan 35 ikat kangkung dari lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Rizal menegaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendorong ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
“Pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif adalah bukti bahwa lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga wadah transformasi diri yang positif. Panen 35 ikat kangkung ini adalah langkah kecil yang bermakna besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sekaligus wujud kemandirian warga binaan yang siap berintegrasi kembali dengan masyarakat,” tegas Rizal.
Pemanfaatan lahan kosong ini memperlihatkan bahwa kegiatan sederhana dapat memberikan manfaat langsung apabila dikelola secara konsisten.
Hasil panen dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur, sedangkan proses penanaman dan perawatan menjadi sarana bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan.
Lapas Kelas IIA Ambon berupaya melanjutkan kegiatan pertanian tersebut dengan mengoptimalkan lahan yang tersedia dan memperluas jenis tanaman yang dibudidayakan.
Melalui program ini, Lapas Ambon mendorong pembinaan yang tidak hanya mengisi waktu warga binaan, tetapi juga memberikan pengalaman kerja, menumbuhkan kemandirian, dan mempersiapkan mereka untuk kembali berperan aktif di tengah masyarakat. (ULN)







