Sekkot Ambon Tekankan Inovasi, Kolaborasi, dan Keselamatan Pasien dalam Transformasi Pelayanan Kesehatan
AMBON,Gema Nusantara.net — Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon, Robby Sapulette, mendorong para apoteker muda di Maluku untuk memperkuat kompetensi digital, mengembangkan inovasi, serta meningkatkan kolaborasi lintas profesi dalam menghadapi transformasi sistem pelayanan kesehatan.
Pesan tersebut disampaikan Robby sebelum membuka kegiatan Indonesian Young Pharmacists Summit dan Konferensi Daerah Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Maluku 2026 di Hotel Santika Premiere Ambon, Sabtu (10/10/2026).
Pada kesempatan itu, ia juga mewakili Wali Kota Ambon untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.
Di hadapan para apoteker dan peserta kegiatan, Robby menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa perubahan mendasar dalam sistem pelayanan kesehatan.
Perubahan tersebut menuntut apoteker untuk tidak hanya menguasai ilmu kefarmasian, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, transformasi digital tidak sekadar mengubah dokumen berbasis kertas menjadi sistem elektronik. Lebih dari itu, transformasi harus mendorong perubahan cara berpikir, pola kerja, serta mekanisme kolaborasi agar pelayanan kesehatan semakin efektif dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Robby menjelaskan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan sistem informasi kesehatan dapat membantu meningkatkan efisiensi pelayanan, mempercepat akses informasi obat, serta mendukung pengambilan keputusan klinis.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan keterlibatan tenaga profesional, termasuk apoteker, untuk memverifikasi informasi, menilai ketepatan rekomendasi, dan memastikan keamanan penggunaan obat.
“Transformasi sesungguhnya bukan sekadar menggantikan kertas dengan layar sentuh, tetapi bagaimana mengubah cara kita berpikir dan berkolaborasi,” demikian inti pesan Robby dalam paparannya.
Ia menekankan bahwa teknologi harus memperkuat kemampuan apoteker, bukan menggantikan nilai-nilai profesional yang menjadi landasan pelayanan kefarmasian.
Etika profesi, komunikasi, empati, serta tanggung jawab terhadap keselamatan pasien tetap menjadi prinsip utama yang harus dipegang setiap apoteker di tengah perkembangan teknologi.
Karena itu, Robby mengingatkan pentingnya literasi digital bagi tenaga kefarmasian. Apoteker perlu memahami cara membaca dan menilai data, menggunakan platform kesehatan secara tepat, serta menjaga kerahasiaan, keamanan, dan integritas informasi pasien.
Kolaborasi Menjadi Kunci Pelayanan Kesehatan
Lebih lanjut, Robby menyoroti pentingnya kolaborasi antara apoteker, dokter, tenaga kesehatan lainnya, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Menurutnya, sistem pelayanan kesehatan yang terintegrasi membutuhkan komunikasi dan kerja sama lintas profesi agar setiap keputusan medis dapat mempertimbangkan kebutuhan pasien secara menyeluruh.
Ia juga menilai perkembangan layanan kesehatan digital membuka peluang lebih luas bagi apoteker, baik dalam pelayanan klinis, pendidikan, industri farmasi, regulasi, maupun pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi.
Peluang tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kompetensi, kemampuan berinovasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.
Robby mendorong generasi muda farmasi agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan pelayanan kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, inovasi digital di bidang kefarmasian diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan akses, efisiensi, mutu pelayanan, dan keselamatan penggunaan obat.
Investasi SDM Kesehatan untuk Masa Depan Ambon
Dalam paparannya , Robby juga menegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Ia menilai kualitas kesehatan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun daerah yang produktif dan berdaya saing. Karena itu, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, termasuk apoteker, perlu memperoleh perhatian berkelanjutan.
Pemerintah daerah, lanjutnya, memiliki kepentingan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan melalui penguatan kompetensi dan pengembangan pendidikan.
Robby juga menaruh harapan pada kontribusi apoteker muda yang akan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pelayanan kesehatan masa depan, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menikmati kemudahan layanan digital, tetapi juga memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan bertanggung jawab.
Summit Apoteker Muda Perkuat Profesionalisme
Sementara itu, dalam laporan pelaksanaan kegiatan, panitia menyampaikan bahwa Indonesian Young Pharmacists Summit 2026 bertujuan meningkatkan peran dan kontribusi apoteker dalam berbagai bidang kefarmasian, mulai dari pelayanan klinis, industri, akademisi, regulasi, hingga kewirausahaan.
Kegiatan berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 melalui rangkaian seminar, pengabdian masyarakat, dan kegiatan pendukung lainnya. Panitia mencatat jumlah keseluruhan peserta sebanyak 192 orang.
Melalui forum tersebut, para apoteker muda diharapkan memperoleh pengetahuan dan wawasan baru sekaligus mengembangkan gagasan inovatif yang dapat diterapkan dalam praktik kefarmasian.
Pelaksanaan Indonesian Young Pharmacists Summit dan Konferensi Daerah PD IAI Maluku 2026 menjadi ruang penguatan profesionalisme, inovasi, dan kolaborasi bagi apoteker dalam menjawab tantangan transformasi pelayanan kesehatan.
Bagi Maluku, penguatan kapasitas apoteker muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa mengesampingkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama. (UlN)







