AMBON,GemaNusantara.net – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Ambon mencatat sejumlah kemajuan dalam pendampingan 90 hari Program Gebrak Stunting melalui Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir H90 yang berlangsung di Aula Pertemuan Puskesmas Rijali, Kota Ambon, Selasa (6/10/2026).
Evaluasi tersebut menunjukkan adanya kenaikan berat serta panjang atau tinggi badan balita, disertai peningkatan pengetahuan masyarakat setelah mengikuti rangkaian edukasi gizi dan keamanan pangan.
Hasil pemantauan menjadi bahan bagi BPOM di Ambon dan para mitra untuk memperkuat pendampingan peserta sekaligus menyusun langkah keberlanjutan program dalam mendukung penanganan stunting di Maluku.
Gebrak Stunting atau Gerakan Bersama Kurangi Stunting mengintegrasikan pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi dan keamanan pangan, peningkatan kapasitas kader, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala.
Program tahun 2026 menyasar 12 balita stunting dan delapan ibu hamil yang berisiko mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Negeri Batu Merah dan Kelurahan Pandan Kasturi yang berada dalam wilayah kerja Puskesmas Rijali.
Pemantauan peserta dilakukan pada H0, H30, H60, dan H90. Berdasarkan perbandingan pengukuran pada peserta yang sama, rata-rata berat badan balita meningkat 0,28 kilogram pada H30, 0,37 kilogram pada H60, dan 0,88 kilogram pada H90.
Sementara itu, rata-rata panjang atau tinggi badan bertambah 0,69 sentimeter pada H30, 1,77 sentimeter pada H60, dan 2,27 sentimeter pada H90.
Perbandingan H30 menggunakan 12 pasangan data, sedangkan H60 dan H90 menggunakan 11 pasangan data.
Perubahan juga terlihat pada indikator wasting atau kondisi berat badan rendah menurut panjang atau tinggi badan. Pada pengukuran awal, wasting ditemukan pada tujuh dari 12 balita. Jumlah tersebut menjadi satu dari 11 balita yang mengikuti pengukuran hingga H90.
Meski demikian, seluruh 11 balita yang menjalani pengukuran H90 masih memenuhi indikator stunting berdasarkan tinggi badan menurut umur. Karena itu, kenaikan berat badan tetap perlu diikuti pemantauan pertumbuhan linear, penguatan praktik pemberian makan, serta penilaian kondisi kesehatan masing-masing anak.
Pada kelompok ibu hamil, lima peserta memiliki data berpasangan hingga H90. Hasil pemantauan menunjukkan kenaikan rata-rata berat badan sebesar 6,78 kilogram dan lingkar lengan atas (LILA) sebesar 2,02 sentimeter.
Sebanyak empat dari lima ibu hamil mencapai LILA sekurang-kurangnya 23,5 sentimeter. Sementara satu peserta masih berada di bawah ambang risiko KEK tersebut.
Namun, hasil tersebut masih memerlukan verifikasi terhadap sejumlah catatan pengukuran serta penilaian yang disesuaikan dengan usia kehamilan. Tiga ibu hamil yang belum memiliki data H90 juga belum dapat dinilai status akhirnya.
Selain indikator pertumbuhan, program mencatat perkembangan pada aspek pengetahuan masyarakat. Dari 20 catatan pretest dan posttest yang berpasangan, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 51,50 menjadi 88,00 atau bertambah 36,50 poin.
Peningkatan pengetahuan mencakup aspek higiene dan bahaya pangan, pemilihan serta penanganan pangan, hingga pemahaman mengenai gizi, stunting, dan pengasuhan.
BPOM di Ambon menilai peningkatan pengetahuan tersebut perlu dilanjutkan melalui pendampingan agar pemahaman yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Forum Monev H90 sekaligus menjadi ruang bagi para kolaborator untuk melihat capaian program dan menyusun arah keberlanjutan. Dukungan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat Sekretariat Daerah Provinsi Maluku diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor.
Gebrak Stunting juga diarahkan menjadi salah satu calon pilot project model kolaborasi pentaheliks yang dapat dikembangkan secara bertahap di kabupaten lain di Maluku.
Model tersebut menempatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam pembagian peran yang lebih jelas. Replikasi program membutuhkan sasaran terukur, kesiapan layanan, dukungan sumber daya, standar pengukuran, serta sistem evaluasi yang lebih kuat.
Pengembangan program juga perlu menyesuaikan karakteristik Maluku sebagai wilayah kepulauan, terutama dari sisi akses layanan dan ketersediaan pangan lokal di masing-masing kabupaten.
Dalam pelaksanaannya, BPOM di Ambon mendapat dukungan dari berbagai unsur. Apresiasi disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Puskesmas Rijali, Pemerintah Negeri Batu Merah, serta Kelurahan Pandan Kasturi.
Dukungan juga datang dari tenaga kesehatan, kader, keluarga peserta, perguruan tinggi, dan organisasi profesi.
Mitra akademik yang terlibat antara lain STIKes Prof. Dr. J. A. Latumeten, STIKes Maluku Husada, Universitas Pattimura melalui Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri AMSA, Institut Agama Kristen Negeri Ambon, dan Ikatan Apoteker Indonesia Provinsi Maluku.
Para mitra diharapkan terus memperkuat edukasi masyarakat, meningkatkan kapasitas kader, mengembangkan pangan lokal, serta mendukung evaluasi program berbasis data dan kajian ilmiah.
Sementara dukungan pembiayaan dan kemitraan turut diberikan Bank Syariah Indonesia Regional Maluku, Human Initiative Provinsi Maluku, Dompet Dhuafa Maluku, Bank Negara Indonesia KCU Ambon, Kantor Pemenuhan Gizi Provinsi Maluku, SPPG Polda Maluku, dan SPPG Batu Merah Galunggung.
Keberlanjutan kemitraan tersebut diharapkan dapat memperkuat pendampingan keluarga sekaligus mendukung penyediaan pangan yang bergizi dan aman sesuai peran masing-masing pihak.
Meski mencatat kemajuan pada sejumlah indikator, BPOM di Ambon menegaskan bahwa hasil evaluasi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan dampak program secara luas. Jumlah peserta yang terbatas, belum adanya kelompok pembanding, serta kelengkapan dan mutu catatan masih menjadi faktor yang membatasi penarikan kesimpulan.
Hasil Monev H90 lebih lanjut menjadi bahan perbaikan layanan dan pendampingan. Data tersebut juga tidak menggambarkan penurunan prevalensi stunting di tingkat Provinsi Maluku.
Melalui Monev H90, Gebrak Stunting diarahkan untuk melanjutkan pemantauan terhadap peserta yang masih berisiko, memperkuat edukasi keluarga, meningkatkan mutu pencatatan, serta memastikan keamanan pangan dalam mendukung pertumbuhan anak dan kesehatan ibu.
Kolaborasi berkelanjutan diharapkan dapat menjadikan Gebrak Stunting sebagai model pembelajaran bersama dalam memperkuat upaya penanganan dan penurunan stunting di Maluku.
BPOM di Ambon juga mengajak masyarakat memperhatikan keamanan pangan dengan menerapkan CEK KLIK, yakni Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli atau mengonsumsi pangan olahan. (IT)
(ULN)







