Gemanusantara.net,AMBON — Perayaan Natal Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Maluku yang berlangsung di Aula Kantor, Jumat, 19 Desember 2025 menjadi momentum reflektif untuk menegaskan kembali peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Dengan mengusung tema “Kristus Menghadirkan Damai Sejahtera Bagi Semua” dan subtema “Melalui Natal Kristus Kita Wujudkan Keluarga Berkualitas dan Berketahanan Menuju Indonesia Emas 2045”, perayaan Natal ini diisi dengan refleksi rohani yang disampaikan oleh Pdt. H. Siahay.
Dalam refleksinya, Pdt. Siahay menekankan bahwa makna Natal tidak boleh berhenti pada romantisme historis kelahiran Yesus Kristus dua ribu tahun lalu, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah realitas kehidupan masa kini.
Menurutnya, pesan Natal semestinya tercermin dalam pola kerja yang disiplin, etos pelayanan yang bertanggung jawab, serta relasi yang sehat, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam keluarga.
“Natal seharusnya menggairahkan kita untuk membangun relasi yang hidup—dengan pimpinan, bawahan, sesama rekan kerja, dan terutama dalam keluarga sebagai ruang hidup utama,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa tantangan keluarga saat ini jauh lebih kompleks, mulai dari persoalan kemiskinan, relasi yang rapuh, hingga tekanan sosial yang berdampak pada ketahanan keluarga. Jika umat hanya terjebak pada euforia dan nostalgia Natal, maka pesan transformatif Natal justru kehilangan relevansinya dalam menjawab realitas tersebut.
Pdt. Siahay menegaskan bahwa seluruh Alkitab, dari Kitab Kejadian hingga Wahyu, sejatinya sarat dengan pesan-pesan Natal yang kontekstual dan membumi, namun kerap terabaikan dalam khotbah-khotbah seremonial. Akibatnya, Natal sering kali tidak menghasilkan produktivitas iman dan sosial, tetapi terjebak pada rutinitas tahunan.
Dalam konteks tersebut, ia memilih Kitab Ulangan pasal 6 ayat 4–9 sebagai dasar refleksi. Teks ini dinilai relevan dengan misi BKKBN dalam membangun ketahanan keluarga dan kualitas generasi masa depan. Ayat tersebut menekankan pentingnya komunikasi, keteladanan, dan penanaman nilai secara berkelanjutan dalam keluarga.
“Seruan ‘Dengarlah’ (syema) bukan sekadar ajakan untuk mendengar, tetapi sebuah perintah untuk taat dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Ini adalah fondasi utama dalam membangun keluarga yang tangguh,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Natal harus mempersiapkan hati dan rumah tangga sebagai “palungan” bagi kehadiran Kristus, termasuk menjadikan BKKBN sebagai rumah bersama—ruang pengabdian dan karya untuk meningkatkan kesejahteraan serta kualitas keluarga di Provinsi Maluku.
Melalui refleksi ini, Pdt. Siahay berharap seluruh insan BKKBN dapat menghidupi nilai-nilai Natal secara nyata dalam ruang kerja yang produktif, khususnya dalam proses pendampingan keluarga menuju keluarga yang sehat, sejahtera, dan berketahanan sebagai pondasi menuju Indonesia Emas 2045. (ULN)







