Gemanusantara.net, AMBON – SMP Negeri 19 Ambon menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Program Ayah Pengganti dan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam pengasuhan sekaligus membangun karakter anak sejak dini melalui keterlibatan aktif keluarga di lingkungan pendidikan.
Kepala SMP Negeri 19 Ambon, Novy Gaspersz, mengatakan Program Ayah Pengganti merupakan kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, serta Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar).
Program tersebut selaras dengan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong kehadiran ayah sebagai figur utama dalam proses tumbuh kembang anak.
“Pada hari pertama pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah, hampir 80 persen siswa di SMP Negeri 19 Ambon diantar langsung oleh ayah mereka. Ini menunjukkan antusiasme dan dukungan yang sangat baik dari para orang tua,” ujar Novy, Jumat (17/7/2026)
Ia mengungkapkan, di SMP Negeri 19 Ambon terdapat tiga siswa yang telah kehilangan ayah karena meninggal dunia.
Melalui Program Ayah Pengganti, ketiga siswa tersebut mendapat pendampingan dari personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Ambon yang hadir sebagai figur ayah dalam memberikan perhatian, motivasi, dan semangat kepada mereka.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi wujud nyata kepedulian pemerintah dalam memastikan setiap anak tetap memperoleh kasih sayang, pendampingan, dan keteladanan, meski harus tumbuh tanpa kehadiran ayah kandung.
Program ini sekaligus menegaskan bahwa perlindungan dan pembinaan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurut Novy, seluruh lembaga pendidikan menyambut baik program tersebut karena menegaskan bahwa pengasuhan anak bukan semata menjadi tanggung jawab seorang ibu, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif ayah sebagai kepala keluarga, pelindung, pendidik, sekaligus teladan dalam membentuk karakter anak.
“Peran ayah sangat penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Kehadiran ayah di sekolah maupun di rumah memberikan rasa aman, semangat, dan motivasi bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang,” katanya.
Ia berharap Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah maupun Program Ayah Pengganti tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.
“Harapan kami, ayah tidak hanya hadir pada hari pertama sekolah, tetapi ikut terlibat dalam setiap proses pendidikan anak. Dengan begitu, keteladanan seorang ayah benar-benar tertanam dalam kehidupan anak-anak dan menjadi bekal mereka meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (ULN)







