Gemanusantara.net,TUAL — Upaya percepatan penurunan stunting di Maluku Tenggara semakin diperkuat melalui layanan gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Tual.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, dr. Mauliwaty Bulo, M.Si, menegaskan bahwa pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B , ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD menjadi intervensi penting untuk mencegah stunting sejak fase awal kehidupan.
“Kelompok 3B adalah kelompok paling rentan.
Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD membutuhkan asupan gizi yang tepat di masa kritis pertumbuhan.
Program MBG memastikan kebutuhan dasar ini terpenuhi sehingga risiko stunting dapat ditekan sejak awal,” tegas Mauliwaty saat meninjau langsung operasional SPPG Desa Tual.
Mauliwaty memastikan bahwa seluruh layanan, khususnya bagi kelompok 3B, berjalan aman, tepat waktu, dan sesuai standar gizi.
“Kami ingin memastikan tidak boleh ada hambatan dalam pelayanan. Mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan,” tambahnya
Sejak layanan 3B berjalan dua pekan terakhir, warga mulai merasakan dampaknya.
Ibu Waty Renuat, salah satu penerima manfaat, mengatakan bahwa program MBG membantu menjaga gizi anak-anaknya.
“Dengan adanya program MBG ini, anak-anak saya terhindar dari stunting. Saya berharap program ini bisa terus berlanjut,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).
Selain menerima makanan bergizi, warga juga mendapatkan edukasi pemenuhan nutrisi harian untuk meningkatkan pemahaman orang tua terhadap kebutuhan gizi anak.
SPPG Desa Tual, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara yang dikelola Yayasan Garuda Maryadat Indonesia telah beroperasi sejak 8 September 2025.
Total penerima manfaat MBG mencapai 3.146 orang, termasuk peserta didik dan kelompok 3B. Untuk kelompok 3B, terdapat 91 penerima sementara, dengan distribusi makanan bergizi dilakukan setiap Senin dan Kamis.
Pengelola SPPG Desa Tual, Fachri Ahmad Difinubun, menjelaskan bahwa 3B merupakan kelompok prioritas.
“SPPG wajib memasukkan 3B dalam daftar penerima manfaat. Untuk mereka, kebutuhan gizinya dihitung lebih spesifik, termasuk jumlah kalori harian pada balita,” jelasnya.
Selain itu, SPPG juga mulai memperkuat pendampingan melalui penyuluhan gizi dengan tenaga ahli agar pengetahuan keluarga penerima semakin meningkat.
Pendataan sasaran dilakukan melalui kerja sama penyuluh KB dan kader desa yang melakukan identifikasi serta edukasi kepada keluarga penerima manfaat.
Dengan integrasi antara pemberian makanan bergizi, edukasi, dan pendampingan kader, Kemendukbangga/BKKBN berharap model layanan SPPG mampu memperluas perlindungan gizi bagi keluarga, menekan risiko stunting, serta memastikan tumbuh kembang optimal bagi anak-anak di Maluku Tenggara. (ULN)







