Speech Delay pada Anak Harus Ditangani Sejak Dini, Wamen Isyana Tekankan Intervensi Tepat

Gemanusantara.net,Jakarta – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos, menegaskan bahwa keterlambatan bicara atau speech delay pada anak merupakan isu serius yang harus dicegah dan ditangani sejak dini melalui intervensi yang tepat.

Hal tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Taman Asuh Sayang Anak di Kelas Orang Tua Hebat (TAMASYA di KERABAT) Seri 8 dengan tema “Pengasuhan dan Stimulasi Anak dengan Speech Delay”.

Acara berlangsung secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube resmi Kemendukbangga/BKKBN, Kamis (25/09/2025).

Mengutip data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2023, Wamen Isyana menyebut prevalensi speech delay pada anak prasekolah di Indonesia mencapai 5–8 persen.

“Di balik angka tersebut ada wajah-wajah anak yang penuh harapan, ada orang tua yang cemas, dan ada keluarga yang membutuhkan dukungan kita semua.

Dengan intervensi yang tepat, anak-anak dapat mengejar ketertinggalannya,” ujar Isyana.

Menurutnya, speech delay dapat dipengaruhi oleh faktor medis seperti gangguan pendengaran dan keterlambatan perkembangan saraf, maupun faktor eksternal seperti kurang stimulasi bahasa dan tingginya penggunaan gawai.

Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengganggu keterampilan sosial dan menurunkan kepercayaan diri anak.

Karena itu, Isyana menekankan pentingnya interaksi langsung orang tua dengan anak.

Ia juga mengingatkan bahwa pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan juga ayah.

“Ayah yang aktif mendongeng, bercanda, atau bercakap-cakap dengan anak sejatinya sedang memberi hadiah terbesar, rasa percaya diri, rasa aman, dan kemampuan berbahasa yang lebih baik,” katanya.

Bagi Isyana, semua langkah tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam mengimplementasikan Asta Cita Pembangunan Nasional, khususnya peningkatan kualitas SDM menuju Generasi Emas 2045.

Komunikasi, Bahasa, dan Bicara

Kegiatan kali ini menghadirkan Dr. dr. Fitri Hartanto, Sp.A(K) dari IDAI sebagai narasumber dan dr. M. Gilang Edi, BMedSci (Hons) dari Primaku sebagai moderator.

Dalam paparannya, dr. Fitri menjelaskan perbedaan mendasar antara komunikasi, bahasa, dan bicara. Komunikasi adalah proses bertukar ide, bahasa mencakup pemahaman dan ekspresi, sedangkan bicara merupakan kemampuan menyampaikan pesan melalui artikulasi.

Ia juga menekankan pentingnya stimulasi sejak dini, misalnya melalui permainan multisensori, mendengarkan suara, menirukan kata sederhana, hingga menunjuk benda sesuai perintah.

Latihan sederhana dalam keseharian dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa reseptif maupun ekspresif anak.

“Intervensi terbaik dilakukan sejak usia dini, terutama pada fase sensitif perkembangan bahasa,” ujar Fitri. (AJP)