Lahan Tidur Berbuah Manis, Lapas Ambon Panen 25 Kg Jagung Hasil Warga Binaan

AMBON, GemaNusantara.net, – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon kembali menunjukkan hasil nyata dari program pembinaan kemandirian berbasis pertanian. Melalui pemanfaatan lahan tidur (idle) di lingkungan lapas, warga binaan berhasil memanen sebanyak 25 kilogram jagung manis, Senin (14/9).

Keberhasilan panen tersebut menjadi bukti bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dioptimalkan menjadi sumber pangan sekaligus sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan. Program ini juga merupakan bagian dari dukungan terhadap Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam memperkuat kemandirian pangan melalui sektor pertanian.

Hasil panen jagung selanjutnya dipasarkan kepada jajaran pegawai Lapas Ambon. Pengelolaan hasil penjualan dilakukan secara transparan dan akuntabel, di mana sebagian disetorkan sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), sementara sebagian lainnya diberikan sebagai premi atau upah kerja kepada warga binaan yang terlibat dalam pengelolaan lahan.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Ambon, Zulkipli Salampessy, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan tidur menjadi area produktif merupakan salah satu strategi pembinaan luar tembok atau sarana asimilasi yang efektif dalam membentuk keterampilan warga binaan.

“Kami terus mengoptimalkan potensi lahan kosong yang ada di lapas. Melalui pertanian jagung ini, warga binaan dilatih mulai dari proses penanaman, perawatan hingga panen, sehingga mereka memiliki keterampilan agribisnis yang mandiri,” ujar Zulkipli.

Menurutnya, pendampingan dilakukan secara intensif agar hasil pertanian memiliki kualitas yang baik sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi warga binaan dalam mengelola usaha berbasis pertanian.

Salah satu warga binaan berinisial AT mengaku bersyukur dapat terlibat dalam program tersebut. Baginya, aktivitas bertani tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang kerja keras, tanggung jawab, dan produktivitas.

“Kami sangat bersyukur diberi kepercayaan mengelola lahan ini sampai panen. Selain mendapat ilmu baru soal pertanian, kami juga senang karena kerja keras kami diapresiasi melalui premi dari hasil penjualan,” tuturnya.

Antusiasme juga datang dari jajaran pegawai yang membeli hasil panen tersebut. Salah seorang pegawai, Roland Orno, menilai kualitas jagung hasil budidaya warga binaan sangat baik dan segar.

“Kualitas jagungnya bagus, segar, dan tentu menjadi kebanggaan karena kami bisa membeli langsung hasil kerja pembinaan teman-teman warga binaan di sini,” ungkap Roland.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Ambon, S. Hendra Budiman, menegaskan bahwa ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas warga binaan merupakan dua aspek yang berjalan seiring dalam arah kebijakan pemasyarakatan saat ini.

“Program pemanfaatan lahan tidur ini bukan sekadar mengejar target PNBP dan pemberian premi bagi warga binaan, tetapi juga memastikan mereka memiliki mental produktif dan siap berkontribusi positif ketika kembali ke tengah masyarakat,” tegas Hendra.

Ia berharap keberhasilan panen jagung manis ini menjadi motivasi untuk mengembangkan komoditas pertanian lainnya, sehingga program pembinaan berbasis keterampilan dapat terus memberikan manfaat nyata, baik bagi warga binaan maupun institusi pemasyarakatan.

Melalui inovasi pemanfaatan lahan tidur, Lapas Ambon tidak hanya menghadirkan program ketahanan pangan, tetapi juga menumbuhkan semangat kemandirian, etos kerja, dan keterampilan hidup yang menjadi bekal penting bagi warga binaan dalam menyongsong masa depan yang lebih produktif. (ULN)