Reza Maspaitella Dorong USI EduSLM, AI Berdaulat untuk Masa Depan Pendidikan Maluku

Gemanusantara.net, AMBON, GemaNusantara.net — Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella, mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk memperluas akses pendidikan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Maluku.

Reza yang juga menjabat sebagai Raja Negeri Rutong menyampaikan gagasan tersebut dalam kegiatan Energizing Maluku 2026 bertema “Membangun Manusia Unggul dan Ekonomi Berkelanjutan” yang berlangsung di lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Sabtu (12/9/2026).

Dalam kegiatan itu, diperkenalkan USI EduSLM, teknologi AI pendidikan dengan model Education Specified Language Model (SLM) yang dirancang khusus untuk kebutuhan pendidikan.

Teknologi tersebut mengusung konsep kedaulatan informasi dan keamanan pendidikan sebagai bagian penting dalam pengembangannya, sekaligus diarahkan untuk mendukung masa depan anak-anak Maluku.

Reza menegaskan, perkembangan teknologi tidak boleh berhenti pada kemampuan menyelesaikan tugas. Teknologi harus mampu membuka akses pengetahuan, mendampingi proses belajar, serta membangun kemampuan manusia.

“AI bukan untuk menggantikan manusia. AI ini agar membantu kita membangun human intelligence,” tegas Reza

Menurut Reza, USI EduSLM memiliki kemampuan yang tidak hanya membantu pengguna dalam menyelesaikan berbagai tugas, tetapi juga memungkinkan komunikasi langsung dengan pengguna.

Kemampuan tersebut membuat proses interaksi dengan teknologi berlangsung lebih dinamis. Pengguna dapat berkomunikasi dengan sistem untuk memperoleh bantuan dalam proses pembelajaran dan mengembangkan pemahaman terhadap berbagai materi.

Reza menyebut pendekatan itu sejalan dengan filosofi “Usi”, yakni sosok kakak yang hadir mendampingi dan membantu adiknya ketika menghadapi kesulitan.

“Ketika adiknya tidak mengerti, dia mengajak. Ketika adiknya sangat sulit, dia akan membantu. Ketika adiknya ingin maju, dia mendorongnya. Itulah filosofi Usi,” ujarnya.

Karena itu, USI EduSLM tidak ditempatkan hanya sebagai perangkat teknologi, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang dapat memperluas kesempatan belajar.

Reza menilai teknologi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan.

Anak-anak yang tinggal di Ambon maupun wilayah seperti Aru, Tanimbar, Buru, Seram, Kei, Lease dan pulau-pulau lainnya harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pengetahuan.

“Bayangkan, seorang anak di Ambon, Seram, Buru, Kei, Aru maupun pulau-pulau lainnya. Walaupun mereka berada di pulau, mereka mempunyai kesempatan memperoleh akses kepada pengetahuan yang setara dengan dunia,” katanya.

Menurutnya, teknologi harus memperpendek jarak antara anak-anak Maluku dan sumber pengetahuan. Kehadiran AI juga harus membuka ruang pembelajaran yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter, identitas dan nilai sosial masyarakat.

Lebih jauh, Reza menegaskan Energizing Maluku tidak boleh menjadi kegiatan yang selesai setelah acara berakhir.

Gerakan tersebut harus berkembang menjadi platform kolaborasi yang mempertemukan masyarakat, dunia pendidikan, sektor industri, pasar, akses permodalan, teknologi dan komunitas.

“Energizing Maluku kita bangun sebagai sebuah gerakan, sebuah platform yang mempertemukan manusia Maluku, manusia Indonesia, dunia pendidikan, sektor-sektor industri, pasar, akses kepada modal, teknologi dan komunitas yang lebih luas,” ungkapnya.

Menurut Reza, potensi masyarakat harus dikonversikan menjadi peluang ekonomi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong pembangunan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Karena itu, pembangunan Maluku membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, pemimpin adat, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas dan masyarakat tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

“Kolaborasi menjadi konstruksi utama daripada Energizing Maluku. Masyarakat terlalu besar untuk dibangun oleh satu institusi saja dan persoalannya terlalu kompleks untuk diselesaikan secara sendiri-sendiri,” tuturnya

Reza juga menempatkan identitas dan modal sosial masyarakat Maluku sebagai fondasi dalam menghadapi perkembangan teknologi.

Kemajuan teknologi, kata dia, harus berjalan beriringan dengan karakter dan nilai kehidupan masyarakat. Dengan begitu, modernisasi tidak menghilangkan identitas, tetapi justru memperkuat kapasitas manusia Maluku.

Ia berharap pemanfaatan USI EduSLM dan gerakan Energizing Maluku mampu membuka jalan bagi lahirnya generasi baru yang memiliki pengetahuan, kemampuan dan daya saing.

“Dari pulau-pulau kecil Maluku telah lahir manusia-manusia yang siap untuk Indonesia, untuk dunia,” pungkas Reza Valdo Maspaitella.

(ULN)