Welly Patty: Penanganan Stunting Bukan Hanya Soal Makanan, Tapi Juga Sanitasi dan Kesejahteraan

Gemanusantara.net,AMBON,2 Maret 2026 – Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Ambon terus menunjukkan hasil positif. Hingga Desember 2025, jumlah anak yang mengalami stunting tercatat sebanyak 279 kasus atau menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 287 kasus.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, Welly Patty, mengatakan penurunan tersebut menjadi bukti bahwa berbagai program intervensi yang dilakukan pemerintah bersama para pemangku kepentingan mulai menunjukkan dampak yang signifikan.

“Data terakhir per Desember tercatat 279 kasus, turun dari sebelumnya 287 kasus. Kami berharap tren ini terus menurun sehingga target prevalensi stunting 14 persen bahkan di bawahnya dapat tercapai,” kata Patty.

Berdasarkan data DPPKB Kota Ambon, kasus stunting tersebar di lima kecamatan, yakni Kecamatan Sirimau sebanyak 103 kasus, Kecamatan Teluk Ambon 86 kasus, Kecamatan Nusaniwe 65 kasus, Kecamatan Leitimur Selatan 16 kasus, dan Kecamatan Baguala 9 kasus.

Untuk menekan angka stunting, Pemerintah Kota Ambon melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terus melakukan berbagai langkah strategis yang melibatkan pemerintah kota, kecamatan, desa dan kelurahan, serta sejumlah mitra terkait seperti TP-PKK, BKKBN, tenaga kesehatan dan organisasi perangkat daerah (OPD).

Melalui kegiatan posyandu yang rutin dilaksanakan, petugas kesehatan melakukan pemantauan tumbuh kembang anak, penimbangan berat badan, pemeriksaan kesehatan hingga pemberian intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

Selain itu, Pemkot Ambon juga menjalankan program Orang Tua Asuh bagi anak-anak stunting. Program tersebut didukung melalui swadaya pejabat, bantuan stimulan pemerintah daerah, serta sinergi bersama TP-PKK dan Dinas Kesehatan.

Dukungan tersebut kemudian diwujudkan dalam penyediaan makanan bergizi melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dasyat). Makanan yang telah disiapkan selanjutnya disalurkan kepada anak-anak stunting melalui kader kesehatan, kader keluarga berencana, dan tim pendamping keluarga yang bertugas di lapangan.

Menurut Patty, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh pemberian makanan tambahan semata. Berbagai faktor lain seperti sanitasi lingkungan, akses air bersih, kepesertaan BPJS, kondisi tempat tinggal hingga kesejahteraan keluarga turut mempengaruhi tumbuh kembang anak.

“Masalah stunting ini tidak hanya soal makanan, tetapi juga menyangkut sanitasi, jaminan kesehatan, akses air bersih dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Karena itu semua pihak harus bergerak bersama untuk mengatasinya,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap persoalan yang ditemukan di tingkat posyandu akan diteruskan kepada pemerintah desa maupun kelurahan untuk selanjutnya ditindaklanjuti oleh OPD terkait sesuai bidang tugas masing-masing.

Dengan kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, Pemerintah Kota Ambon optimistis angka stunting akan terus menurun dan target pembangunan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berkualitas dapat tercapai di masa mendatang.  (ULN)