Gemanusantara.co.id,Ambon-Kepala BKKBN Maluku,Dra Renta Rego berikan apresiasi atas terselenggaranya ” Rapat Koordinasi Stunting Kabupaten Kepulauan Aru Tahun 2023 di Aru, hari Senin(6/11/2023)
Acara ini di hadiri oleh,Penjabat Bupati Kepulauan Aru,Djalaludin Salampessy.M.Si. Ketua TPPS Kabupaten Kepulauan Aru.
Kepala Dinas yang tergabung dalam TPPS Kabupaten Kepulauan Aru,Ketua TP PKK Kabupaten Kepulauan Aru dan Tamu undangan lainnya
Rego dalam sambutannya mengatakan,Strategi percepatan penurunan Stunting menjadi acuan bagi kementerian lembaga, Pemerintah provinsi, Daerah, Kabupaten/Kota serta Desa dan Pemangku kepentingan dalam rangka penyelenggaraan percepatan penurunan Stunting yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM perbaikan Gizi penurunan Stunting melalui 5 pilar Strategi Nasional yang paling utama adalah meningkatkan komitmen sampai penguatan dan pengembangan sistem data informasi riset dan inovasi.
Menurutnya, Lima pilar strategi nasional harus mendapat dukungan kementerian lembaga terutama peranan Kemendagri dan Bapeda dalam Komitmen untuk mensingkronisasikan program percepatan penurunan Stunting melalui RPMJ,RKPD dan APBD sebab jika di lihat penurunan Stunting di Indonesia mengalami penurunan 1,3% pertahun dari tahun 2013 dan tahun 2022 mengalami penurunan drastis yang sangat tren dari 28,7% menjadi 2,6% .” TuturNya.
Sementara Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun 2018 mengalami penurunan 42,12% dari tahun 2019 turun menjadi 35,8% tahun 2021.
tahun 2022 turun menjadi 7,7% maka di harapkan semoga tahun 2023 ini Kabupaten Kepulauan Aru akan terjadi penurunan yang signifikan sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan Stunting di Maluku dan semua ini akan terwujud jika ada kolaborasi bersama dari kementerian/ lembaga, mitra kerja dan semua pihak dalam percepatan penurunan Stunting
Selain itu fungsi dan peran tim percepatan penurunan stunting Kabupaten/ Kota sangat penting yang telah di amanatkan dalam Perpres 72 tahun 2021 di mana tugas TPPS adalah berkoordinasi, sinkronisasi, menyusun kebijakan program dan kegiatan PPS yakni, Peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM serta Pemantauan dan Evaluasi penyelenggaran percepatan penurunan Stunting di tingkat kabupaten/kota dan Kecamatan Yang dapat di lakukan oleh TPPS,”Katanya.
Rego melanjutkan bahwa dalam upaya percepatan penurunan stunting maka perlu pendekatan spesifik dan sensitif terhadap keluarga beresiko Stunting
Dapat di lihat berdasarkan data pusat melalui satgas semester 1 untuk Bumil kekurangan energi kronis dapat tambahan asupan gizi rata rata Nasional 87% untuk Kabupaten/Kota di atas Nasional adalah SBB,KKT,Malteng untuk Aru 2% dan Malra 0%
Bumil konsumsi tablet tambah darah minimal 90% tablet selama kehamilan pada kabupaten Aru beda 10% sementara yang tinggi SBB 86% dan Malra 0%
Bagi Remaja putri yang konsumsi TTD, di KKT 100% Malra 0% Aru 28% ini perlu mendapat perhatian bersama,” Rego menegaskan.
Terkait dengan data lain seperti bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat asi eksklusif, anak usia 6-23 bulan dapat makanan pendamping asi (mp-asi).
Dapat di lihat balita yang di pantau pertumbuhan dan perkembangannya adalah balita gizi kurang yang dapat tambahan asupan gizi, dan anak berusia dibawah 5 tahun yang memperoleh imunisasi dasar lengkap.
Ada data kepulauan Aru 100% keluarga berisi Konstantin yang memperoleh pendampingan tetapi ada juga yang di benahi bersama,” UlasNya.
Jika kita simak data capaian intevensi sensitif semester 1,maka terlihat bahwa
Pelayanan keluarga berencana (KB) pasca salin kehamilan yang tidak di inginkan,(PUS) yang memperoleh pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan nikah,rumah tangga yang mendapatkan akses air minum layak rumah tangga yang mendapatkan akses sanitasi (Air limbah domestik) layak,keluarga beriko Stunting yang memperoleh pendampingan, sasaran yang memiliki pemahaman yang baik tentang Stunting
Desa/Kelurahan stop buang air besar sembarangan (BABS) atau open defecation free (ODF).
Ternyata masih banyak yang perlu mendapat perhatian bersama karena khusus untuk kabupaten kepulauan Aru masih menunjukkan angka yang masih dibawah rata-rata nasional.
Sementara itu pendekatan keluarga berisiko stunting sesuai data untuk bulan Oktober melalui aplikasi Sipasti antara lain, 1.Pemantauan sasaran pendampingan kehamilan rata-rata Maluku 615 tetapi yang terimput dalam elsimil adalah 83 untuk kepulauan Aru data 0 yang terimput adalah 0.
2. Begitu juga dengan pendampingan kelahiran penginputan pada elsimil masih 0%
3. Untuk penerima manfaat PMT kepulauan Aru sudah sangat baik, 116 tetapi yang terinput baru 1; Harapannya untuk menjadi perhatian dapat ditingkatkan lagi.
4. Untuk progres audirt kasus Stunting untuk kabupaten kepulauan Aru semester 1 baru ada pada tahap seleksi kasus yang seharusnya sudah masuk tahap semester ll, sementara semester ll masih belum bergerak padahal hanya sisa 1 bulan efektif untuk pelaksanaan audirt kasus Stunting dengan sasaran 2 Kec dan 5 Desa yaitu Kec pulau-pulau Aru Desa, Karangguli, Desa Wokam dan kelurahan Galaydubu sementara kecamatan Aru tengah, Desa Benjina dan Desa Gardakau
Oleh karena itu maka strategi percepatan penurunan Stunting melalui penajaman keluarga berisiko stunting dengan keluarga yang menjadi sasaran adalah keluarga yang punya baduta, balita kemudian pasangan usia subur,” Tambahnya
Dengan memperhatikan dan melakukan penampis lingkungan yang tidak sehat; air minum yang tidak layak; jamban yang tidak layak; menghindari 4 terlalu. Intinya adalah kita pertajam penanganan ibu hamil, baduta, balita dan kemiskinan ekstrim.
Dengan pendekatan keluarga berisiko stunting yang dipertajam dengan sasaran keluarga berisiko stunting maka, diharapkan target 2024 prevalensi Stunting menjadi 14% bisa terwujud atau mendekati lah.
Oleh karena itu 7 areal Quick Wins yang juga harus menjadi perhatian bersama adalah;
1. Data memastikan data yang digunakan akurat, dapat di percaya dan logis.
2. TPK memastikan TPK melakukan pendampingan bagi KRS dalam pelayanan KIE , rujukan kesehatan dan bantuan Social.
3. Minilokakarya memastikan minilokakarya dilaksanakan setiap bulan, dipimpin oleh camat, pemateri kapuskesmas, PKB dan ka KUA mendiskusikan dan memecahkan masalah PPS di Desa/Kel dan Kec.
4. konvergensi memastikan pentahelix bergotong royong dan berbagi peran dalam PPS.
5. Audirt kasus Stunting memastikan kasus Stunting tercatat dan di lakukan rekomendasi.
6. Pemberian makanan tambahan memastikan KRS memperoleh makanan hewan yang memadai sumber dana yaitu dana Desa, BOK, PKH, BAAS
7. Bunda asu anak Stunting lintas dinas dapat berpartisipasi dalam BAAS secara ikhlas dan sukarela,” Jelasnya
Harapannya untuk semua UPD yang ada pada lingkup pemerintah kabupaten kepulauan Aru khusus di Kecamatan Amahai dan seluruh mitra kerja terutama TPPKK dapat berkolaborasi dalam menekan dan menurunkan angka stunting di Maluku tengah.
Iya menghimbau untuk perkuat semangat kemitraan tempuh inovasi yang memiliki dampak positif dalam masyarakat majemuk serta manfaatkan pengetahuan serta kemajuan TIK dan berikan kontribusi yang nyata dan seutuhnya kepada masyarakat dengan mengedepankan kepentingan mereka untuk mendapatkan hak hidup dan mewujudkan keluarga yang berkualitas,” TutupNya.(**).






